SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM

BAGIAN KE-21

PERANG KHANDAQ

Quraisy terhadap kaum muslimi semakin bertambah, karena kali kedua merasakan kekagagan dalam perang badar dan perang Uhud untuk menghancurkan kaum muslimin. mereka yang kuat imannya akan berjuang dengan semangat dan sepenuh hati demi tegaknya agama Islam. Pada perang Uhud, kaum yahudi Madinah melakukan pembelotan terhadap aturan Rasulullah saw. setelah selesainya perang Uhud, mereka (kaum Yahudi Madinah) diusir dari Madinah.



A.     SEBAB-SEBAB TERJADINYA PERANG KHANDAQ

      Orang-orang Yahudi yang diusir dari Madinah dipindahkan ke Khaibar, sebuah wilayah yang ada di luar Madinah. Hal ini membuat mereka kecewa dan marah. Mereka terdiri atas dua suku utama yaitu, bani Nadhir dan Bani Wail. Beberapa tokoh dari kedua suku tersebut menghasud suku-suku yang lain agar menyerang kaum muslimin. Beberapa tokoh tersebut berasal dari  Bani Nadhir yaitu, Abdullah bin Salam bin Abi Huqaiq, Huyay bin Akhtab, dan Kinanah bin ar-Rabi’ bin Huqaiq. Adapun dari Bani Wail adalah Huwazah bin Qais dan Abu Ammar.

       oleh karena itu, perang Khandaq juga disebut sebagai Perang Ahzab (perang gabungan antar suku-suku). kata Ahzab berarti kelompok, golongan, atau partai. Maksudnya adalah, gabungan antara kelompok-kelompok yang membenci kaum muslimin yang bersatu untuk menghancurkan Nabi Muhammad saw. beserta sahabat dan pengikutnya. Perang Ahzab terjadi pada tahun 5 Hijriyah.
  
B.     BERKECAMUKNYA PERANAG KHANDAQ

       Untuk mencapai tujuannya membalas dendam atas kekecewaan mereka terhadap Nabi Muhammad saw. dan para pengikutnya, orang-orang Yahudi mengatur strategi. Mula-mula mereka mendekati kaum Quraisy Makkah dan menawarkan diri untuk bergabung dengan mereka. Awalnya, pihak Quraisy merasa was-was. hal itu dikarenakan masih adanya kaum Yahudi yang tinggal di Madinah, yaitu Bani Quroidzoh. Pihak Yahudi meyakinkan bahwa Bani Quroidzoh yang tinggal di Madinah hanya untuk mengelabuhi kaum muslimin. Selain itu, pihak Quraisy juga menyatakan sikap bahwa agama kaum Quraisy lebbih baik dari pada agama Nabi Muhammad saw. Jawaban-jawaban itu meyakinkan kaum Quraisy. Dan mereka juga sangat bernafsu untuk membalas dendam atas kekalahan mereka dalam perang Badar dan kegagalan dalam perang 
Uhud.   

       Setelah berhasil mempengaruhi kaum Quraisy Makkah, kaum Yahudi mencari dukungan dari kabilah Gatafan. Kabilah Gatafan terdiri atas Qais Alim, Bani fazara, Asyja’, Bani Sulaiman dan Bani Sa’ad. Kaum Yahudi juga memberitahukan kesepakatan  mereka dengan kaum kafir Quraisy Makkah. Selain itu, Kabilah Gatafan akan memperoleh harta rampasan serta hasil perkebunan dari di Khaibar jika bersedia membantu mereka untuk menyerang kaum muslimin.

       Usaha Huyay bin Akhtab akhirnya membuahkan hasil. Ia berhasil mengumpulkan pasukan yang besar. Pasukan itu berjumlah 10.000 orang. Pasukan Ahzab kemudian bergerak menuju Madinah, dan dipimpin oleh Abu Sufyan. Berita keberangkatan mereka terdengar oleh Nabi Muhammad saw. Kaum Muslimin kemudian menyiapkan pasukan berjumlah 3.000 orang. Jumlah antara kedua pasukan itu sangat tidak seimbang. Bagi kaum muslimin, menyongsong pasukan Ahzab sangatlah berisiko. Akan tetapi, bertahan di dalam kota juga tidak akan mampu membendung pasukan Ahzab. Nabi Muhammad saw. merasa bimbang untuk memutuskan strategi yang cocok untuk menghadapi serangan tentara Ahzab.

       Dalam keadaan demikian, Salman al-Farisi mengusulkan agar kaum muslimin menggali parit (Khandaq) di perbatasan Madinah. Dengan demikian, pergerakan pasukan musuh terhambat. Salman al-Farisi adalah seorang sahabat yang berasal dari Persia. Ia memiliki banyak pengalaman tentang seluk-beluk peperangan yang belum dikenal di daerah Arab. Dan Nabi Muhammad saw. pun menyetujui usulan itu.

       Kaum muslimin segera memulai penggalian parit tersebut dibagian selatan kota Madinah. Bagian ini terbuka dan sangat mudah diserang oleh musuh. Ketika Salman dan beberapa orang islam sedang menggali parit, mereka menemukan gumpalan batu putih yang sangat keras. Semua alat yang digunakan untukk menggali, tidak ada yang mampu memecahkan batu tersebut. Salman segera memberitahukan hal ini kepada Rasulullah saw. beliau segera datang dan membawa kapaknya. pada pukulan pertama, batu itu pecah sepertiganya dan mengeluarkan cahaya dari arah Syam. Hal  itu dilihat oleh kanjeng Nabi Muhammad saw. sebagai isyarat akan takluknya Negeri Syam (Syuriah). Pada pukulan kedua, sepertiganya pecah lagi dan mengeluarkan cahaya dari arah Persia. hal itu dilihat oleh kanjeng Nabi Muhammad saw. sebagai isyarat akan takluknya negeri Persia. Pukulan ketiga memecahkan sepertiga dari sisa batu tersebut dan memancarkan cahaya dari arah Yaman. hal itu juga dilihat oleh kanjeng Nabi sebagai isyarat akan takluknya negeri Yaman di tangan orang-orang Islam.

       Penggalian parit tersebut memakan waktu enam hari. Kaum muslimin mengalami kesulitan karena terbatasnya perbekalan. Walaupun demikian, kaum muslimin berhasil menyelesaikannya dengan baik. Karena jasanya Salman al-Farisi dinyatakan oleh Rasulullah saw. sebagai ahlul bait (anggota keluarganya).

        Setelah selesai proses pembuatan parit, pertahanan di wilayah kota di perketat. Dinding-dinding rumah yang menghadap kearah datangnya musuh diperkukuh. Wanita dan anak-anak ditempatkan dirumah yang dijaga ketat. Rumah-rumah yang ada dibelakang parit dikosongkan. Di pinggir parit diletakkan batu-batu yang siap dilemparkan ketika musuh menyerang. Sementara itu, keselamatan bagian kota yang lain yang tidak dibuat parit diserahkan kepada Bani Quroidzoh. Bani Quroidzoh adalah suku Yahudi yang telah membuat perjanjian dengan Nabi Muhammad saw. untuk bersama-sama mempertahankan kota Madinah.

       Tatkala pasukan Ahzab tiba di Madinah, mereka heran melihat keadaan tersebut. Mereka belum pernah menyaksikan strategi seperti itu sebelumnya. Mereka bisa berperang dengan strategi maju mundur, menyerang dan lari. Penggunaan strategi ini oleh kaum muslimin sangat tepat. Mereka berhasil membendung laju pasukan Ahzab. Kaum Quraisy sangat yakin bahwa kali ini pasti mereka berhasil menghancurkan kaum muslimin.

       Pasukan Ahzab dibagi menjadi tiga kekuatan besar. Satu kekuatan dipimpin oleh Ibnu A’war as-Salami akan menyerbu dari atas lembah. Satu kekuatan dipimpin oleh Uyainah bin Hisn yang akan menyerang dari arah samping. dan satu pasukan lagi dipimpin oleh Abu Sufyan. Mereka akan menghadapi kaum muslimin dibagian parit. Mereka mengepung kota Madinah. Selain itu, mereka juga memblokade Kota Madinah hingga kaum muslimin tidak bisa keluar dari kota. 

       Pengepungan kota madinah berlangsung selama sebulan. selama itu tidak pernah terjadi perang terbuka. Kedua belah pihak saling melemparkan panah serta perang tanding. Beberapa ksatria Quraisy seperti Amr bin Abdul Wudd, Ikrimah bin Abu Jahal dan Dinar bin Khattab maju mneyebrangi parit. mereka menentang perang tanding. Mereka dihadapi oleh pahlawan-pahlawan Islam yang dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib. Ia bersama pahlawan muslim lainnya berhasil mengalahkan para ksatria Quraisy.

       dalam keadaan yang seperti itu, bani Quroidzoh tiba-tiba membelot. Mereka berbalik memihak pasukan Ahzab karena bujukan dari Huyay bin Akhtab. Peristiwa itu membuat kaum muslimin kaget dan sangat terguncang. Namun, Nabi Muhammad saw. dengan cekatan berhasil menenangkan mereka. Kaum  muslimin kemudian berdoa kepada Allah dan meminta pertolongan.

        Allah swt memperlihatkan Kekuasaan-Nya. Seorang dari kabilah Gatafan yang bernama Nu’man bin Mu’az datang kepada Nabi Muhammad saw dan menyatakan masuk Islam tanpa sepengathuan teman-temannya. ia juga memitna kepada Rasulullah saw agar diberi tugas. Nabi Muhammad saw, menugaskan Nu’man untuk melemahkan semangat pasukan Ahzab.

       Nu’man bin Mu’az kemudian menemui bani Quroidzoh agar menyerahkan diri dan meminta jaminan kepada pihak Quraiys. Jaminan itu berupa beberapa tokoh Quraiys harus ada yang tinggal bersama mereka. Hal itu untuk memastikan bahwa mereka (Bani Quroidzoh) punya kepastian atas persekutuan antara mereka dan tidak akan ditinggal sendirian setelah tragedi Khandaq. kemudian Nu’man bin Mu’az menemui pihak Quraisy dan mengatakan bahwa Bani Quraidzoh telah menyesal bersekutu dengan mereka dan membelot melawan dari kaum muslimin. Oleh karena itu, mereka meminta para tokoh Quraisy dan Gatafan sebagai sandera. Selanjutnya, bani Quroidzoh akan menyerahkan sandera kepada kum muslimin.

        Pada tanggal 5 Syawal tahun 5 Hijriyah, Abu Sufyan mengutus Ikrimah bin Abu Jahal beserta beberapa orang Quraisy dan Gatafan kepada Bani Quroidzoh. Abu Sufyan berpesan agar besok dilakukan penyerangan kepada kaum muslimin. Utusan itu pulang dengan membawa jawaban bahwa orang-orang Yahudi tidak berbuat apapun. Selain itu, Quroidzoh meminta beberapa tokoh Quraiys dan Gatafan sebagai sandera. Jawaban itu membuat Abu Sufyan sangat marah. Ia mengatakan bahwa mereka akan memerangi Nabi Muhammad saw. sendiri-sendiri.

       Ketika terjadi perpecahan diantara pasukan Ahzab, Allah swt, mengirimkan angin tofan yang bertiup sangat dahsyat. Perkemahan pasukan Ahzab porak poranda. Peristiwa itu membuat pasukan Ahzab ketakutan. Mereka kemudian menrik diri dan pulang ke daerah masing-masing. Melihat kenyataan itu, kaum muslimin bersyukur kepada Allah swt. semua itu menambah keyakinan mereka kepada Allah swt.   

C.        AKIBAT YANG DIHASILKAN OLEH PERANG KHANDAQ

Walaupun Suku Quraiys dan kabilah Gatafan telah pergi, persoalan yang ada di Madinah belum selesai. Nabi Muhammad saw kemudian memerintahkan kaum muslimin untuk mengepung pembelotan Bani Quroidzoh. Karena tidak kuasa menahan kepungan darti umat Islam, Pemimpin Bani Quroidzoh bernama Ka’ab bin Asad segera mengumpulkan kaumnya dan memberi tiga pilih kepada mereka. Yang pertaman, menyerah kalah dan mengikuti Nabi Muhammad saw. Kedua, membunuh kaum wanita dan anak-anak lalu lari berperang melawan Nabi Muhammad saw. Dan ketiga, tunduk dan patuh terhadap keputusan Nabi Muhammad saw. Akhirnya, mereka memilih pilihan yang ketiga. Mereka mengharap bantuan dari suku Aus sepert halnya suku Khajraj yang telah membantu bani Nadzir.
Persoalan Bani Quraoidzoh dipercayakan oleh Nabi Muhammad saw. kepada Sa’ad bin Mu’az dan kemudian memerintah bani Quroidzoh untuk segera keluar dan turun dari benteng pertahanan mereka seraya meletakkan senjata. Bani Quroidzoh melaksanakan perintah Mu’az dan bagi mereka yang terlibat kejahatan perang dihukum mati. Kaum wanita dan anak-anak ditawan. Harta benda mereka dibagikan kepada kaum muslimin. Nabi Muhammad saw. menyetujui keputusan itu. 

Dengan diselesaikannya pembelotan bani Quroidzoh, posisi islam di Madinah makin kuat. Kabilah-kabilah Arab dan Yahudi lainnya makin segan kepada kaum muslimin. Untuk menjalankan roda pemerintahan yang adil dan merata, Nabi Muhammad saw menanamkan prinsip hukum dan perdamaian. Hal itu tercermin dalam Perjanjian Hudaibiyah.         


Sumber https://mbahkenyung.blogspot.com/