PERTEMUAN SYEKH JANGKUNG DENGAN IMAM MADZHAB EMPAT 
Sultan Agung Mataram dan Syekh jangkung singgah di Turkey selama tiga hari lamanya, kemudian mereka berpamitan untuk kembali ke Jawa, namun sebelum pulang mereka sempat mampir di Mekah untuk bertemu dengan Imam Madzhab empat yakni Imam Syafi’i, Imam Hambali, Imam Maliki dan Imam Hanafi Rodhiyallohu ‘anhum.


Sultan Agung juga menyampaikan permintaan agar kelak beliau (Sultan Ngerum) bersedia membantu orang-orang yang datang dari tanah Jawa, sang sengaja datang kemari untuk ibadah haji, jika bekalnya habis agar beliau mau memberinya bekal kepada mereka. Imam Syafi’i menyampaikan permintaan Sultan Agung itu untuk Raja Ngerum, Baiklah Kanjeng Sultan, hanya khusus untuk orang-orang Jawa saja yang datang ke tanah Mekkah untuk berhaji.

Walaupun tidak diperintahkan, raja Ngerum juga sudah menyanggupinya, jika benar-benar kekurangan bekal, wajib memberikan pertolongan, dan memerintahkan kepada penduduk Mekah untuk saling membantu kepada yang membutuhkannya   

Ada sedikit perbincangan antara Imam Syafi’i, Maliki, Hambali dan  Hanafi dengan Sultan Agung Mataram beserta Syekh Jangkung saling bertukar pendapat mengenai ilmu pengetahuan.

Sultan Agung mengajukan pertanyaan, “kelak kalau saya sudah meninggal bolehkah saya dimakamkan di Mekah atau Madinah?, karena di sinilah tanah suci yang terkenal itu”. empat Imam itu berpendapat “Sultan Agung yang mulia,” 

Jika Tanah Jawa akan ditinggalkan? lalu bagaimana dengan para rakyatnya? hanya Sultan Agung-lah yang memiliki usia panjang hingga buyut dan canggah bagi orang Jawa. Jika engkau lebih memilih untuk dimakamkan maka para rakyat akan kocar-kacir, maka dari itu  saya tidak berani mengizinkanmu untuk dimakamkan di sini, 

Di Jawa juga ada, tanah yang mulia seperti mulianya tanah Mekkah ini”. Sultan Agung meminta untuk diberitahu, tanah manakah itu. di Siti Girilaya di Imogiri Bantul Jogja dekat dengan gunung gamping disebelah utara kota Jogja, dengan ciri-ciri tanah tersebut berbau wangi.  

itu adalah tanah untuk pemakaman, letaknya diatas gunung, tanahanya gembur dan halus seperti tanah Mekah,  semerbak  harum mewangi, Sultan Agung belum juga dapat menemukan lokasi tersebut, jika sudah pulang ke Jawa, lebih baiknya diperiksa dulu lokasinya.

Sultan Agung berkata “kalau begitu  kami minta pamit pulang bersama kakang Syekh Jangkung”. Kanjeng Sultan segera berangkat bersama Syekh Jangkung, sekejap mata, mereka sudah sampai di Gunung gamping,   

Tidak sabar rasa hatinya, Segera diperiksa tanah berbau wangi yang adadi ats gunung tersebut, dan ternyata benar adanya, tanah itu berbau harum. Syekh Jangkung berkata kepada kanjeng Sultan, “Sepertinya inilah tepmatnya” 

kanjeng Sultan bersabda “kakang Syekh Jangkung, benar apa katamu, setelah kita memasuki wilayah di puncak gunung ini tercium bau harum. Maka benarlah apa kata Imam Syafi’i. Gunung gamping Girilaya tanah Magiri “

Syekh Jangkung dan Kanjeng Sultan menuruni bukit untuk memeriksa keadaan air disekitarnya, dari arah barat sumber mata airnya, Sultan Agung yang berkuasa, berfikir sejenak bagaimana agar sumber mata air ini bisa mengalir ke atas dan mengalir mengitari lokasi calon pembaringan terakhirnya?  

Banyak sekali anak-anak penggembala disekitar gunung itu, mereka berkerumun berrebut tempat untuk melihat apa yang dilakukan oleh kanjeng Sultan, sebagian dari mereka ada yang berkata “mana mungkin bisa, air mengalir dari bawah menuju ke atas, sejak zaman apa ada air mengalir ke atas”

mendengar cemoohan dari mereka, Sultan Agung segera melaksanakan shalat dua rekaat, meminta kepada Dzat Yang Maha Tunggal, Syekh Jangkung pun mengikutinya, meminta dengan tulus hati kepada Dzat Yang Maha Agung, “Duh Gustiku, Allah Ta’ala, kabulkan permohonan kami”,   

Anak-anak penggembala itu telah menghina kami Gusti”. demikianlah kira-kira isi doa dari Kanjeng Sultan dan Syekh Jangkung. telah diterima doa-doanya, yang disaksikan oleh Syekh Jangkung membuat garis dari dasar menuju puncak mengitari gunung.  

Sultan Agung di bawah sedang meniup aliran air, sedangkan Syekh Jangkung berada di atas bukit, air mengalir menuju keatas bukit, berkelok-kelok meliuk-liuk alirannya mengikuti garisan yang dibuat oleh Syekh Jangkung,     

Dan hingga kini, di gunung Magiri ada air yang mengalir ke atas menuju pembaringan terakhir Kanjeng Sultan Agung, sang penguasa Jagad Jawa. Tidak ada perumpamaan anak gunung melebihi gunungnya sendiri  

Sultan Agung berkata kepada Syekh Jangkung “kelak kalau kakang sudah meninggal saya harap berkenan untuk dimakamkan disini saja bersamaku”. Syekh Jangkung menjawab “Saya lebih memilih dimakamkan di Landoh saja Gusti”

Hanya desa Landoh yang saya cintai, karena di sanalah saya dilahirkan,dan di sanalah tempat saya di kebumikan, hal ini tidak boleh diubah-ubah, biarkan sesuai asalnya.  

Sultan Agung berkata “baikahl…! terserah kakang pribadi.” Anak-anak penggembala yang berjumlah 20 orang itu yang tadinya menertawkan Kanjeng Sultan, kini mereka diam keheranan, setelah mereka melihat keanehan yang baru saja dilihatnya.

Setelah para penggembala itu pergi Sultan Agung pun pulang ke kerajaannya, sekejap sudah berada di keraton, bertemu dengan para istrinya. Demikian juga dengan Ki Syekh Jangkung, segera menemui istrinya. mereka sama-sama duduk dan bercengkerama bersama.   

Mereka bercerita mengenai perjalanannya, dan para istri itu bertanya “Mengapa kepergian kanjeng Sultan dan Syekh Jangkung lama sekali, sepertinya hampir sepekan (7 hari 7 malam) lamanya” kanjeng Sultan menjawab “Ya, kamipergi ke negeri Rum Turkey, sang Raja Muhammad Al-Fatih Al-Alam sudah takluk dengan Mataram”


Raja melawan raja, dan kakang Syekh Jangkung melawan patihnya, sama-sama adu tanding satu lawan satu. Sang raja Rum sudah mengaku kalah, maka dari itu mereka membatalkan rencana penyerbuannya ke Mataram. Raja Rum adalah rajanya para raja, seluruh raja se dunia bibitnya ada disana, biar saya tidak dianggap kesasar (melawan mereka). hanya doaku selalu ku panjatkan kepada Dzat Yang Maha Tunggal.   


SELANJUTNYA :

وصلى الله على سيدنا محمد النبي الأمي وعلى آله وصحبه وسلم


Sumber https://mbahkenyung.blogspot.com/